Indra Cipta Gunadhi (Indra)

Yogyakarta, 24 Oktober 1979

Indra berasal dari keluarga polisi. Selain sang ayah, kedua kakaknya pun memutuskan untuk memilih profesi yang sama. Namun ia lebih memilih jalan lain walaupun mungkin ada sedikit dorongan dari keluarga agar ia mengikuti jejak itu. Sehari-hari Indra menjaga distro yang menjual baju dan aksesoris untuk kaum muda di Solo. Dan hingga sekarang, ia tetap berusaha membuat orang tua bangga dengan pilihan hidupnya sebagai pemusik.

Pengalaman yang paling tak dapat terlupa dalam hidup Indra adalah menyaksikan secara langsung proses kelahiran anaknya ke dunia. Ia begitu terharu dan merasa itu adalah hal terindah dalam hidupnya. Indra juga mengidolakan sang ibu yang telah melahirkannya ke dunia. Ibu yang selalu dapat tersenyum dalam kondisi apa pun juga membuat Indra semakin kagum padanya.

Di kesehariannya, Indra beraktivitas layaknya seorang ayah yang baik. Cukup kontradiktif dengan aliran musik yang digemarinya, yaitu Rock n’ Roll. Penggemar berat The Doors ini tiap hari bangun pagi untuk memandikan dan membawa anaknya berjalan-jalan pagi sebelum mandi dan berangkat ke distro. Menurutnya, Rock n’ Roll bukan sekedar gaya, musik, dan style, tapi lebih ke makna hidup. Hal itu pulalah yang membuatnya menyukai Jim Morisson, sang vokalis The Doors, karena ia tak kenal lelah mencari jati dirinya. Di akhir minggu ia latihan band di Yogya karena disitulah lokasi markas band-nya.

Chandra Janaiver Singkoh (Jever)

jever

Surabaya, 18 Januari 1990

Bisa bernyanyi sambil main piano adalah keahlian Chandra Janaiver Singkoh atau lebih dikenal dengan Jever. Kegiatan mahasiswa Universitas Petra Surabaya jurusan Komunikasi ini selain kuliah juga menerima kursus piano dan bermain musik di persekutuan doa dekat rumah. Dulu ia tidak pernah berpikir kalau bisa bernyanyi. Hingga suatu hari di acara sekolah, Jever diminta tampil dan gurunya sangat terharu mendengar suaranya.

Sebagai anak tunggal, Jever mengaku tidak manja. Lahir di Manado, di usia 1 tahun kedua orang tuanya memutuskan merantau dan berpindah-pindah kota dari Probolinggo, Bali, hingga akhirnya menetap di Surabaya hingga kini. Dulu ia paling benci musik. Suatu hari, pemain musik di gerejanya pindah dan papa-mama berdoa agar ada lagi yang bisa membantu dalam bermusik. Sang papa selama beberapa waktu bernyanyi hanya dengan gitar. Semenjak itu Jever belajar piano secara otodidak dan jadi sangat menyukai dunia musik dan bernyanyi. Sekarang ia bisa bermain gitar, piano, drum, dan juga bass.

Ketika diminta untuk menilai dirinya sendiri, Jever merasa ia adalah orang yang simple. Tidak suka aneh-aneh, tidak banyak omong hingga cenderung introvert, dan seringkali tidak bisa menyembunyikan perasaan. Untuk jadi seorang Jever yang seperti ini, ia telah menghadapi berbagai macam rintangan yang tidak mudah untuk dilalui. Dengan pembentukan itu, ia bangga dengan apa adanya dirinya sekarang.

Hatna Danarda (Arda)


arda

Madiun, 17 Juni 1988

Arda tergolong sebagai orang yang tidak pilih-pilih dalam berteman. Di Madiun, ia memiliki kenalan yang profesinya sebagai tukang becak hingga ke anak pejabat, semuanya ia perlakukan sama tanpa pandang bulu. Lepas SMA di tahun 2007, Arda memutuskan untuk menunda kuliah dan mencoba peruntungannya di Jakarta dan terjun ke dunia entertainment.

Menurut dirinya dan orang-orang terdekatnya, Arda adalah sosok yang suka humor, ramah, sopan dan pandai menempatkan diri di segala situasi. Hal inilah yang dianggap akan membawanya menjadi idola sejati. Namun lolos atau tidaknya ke babak berikut bukan menjadi masalah bagi Arda, karena ia sudah merasa sangat senang bisa masuk tahap Workshop Indonesian Idol 2008.

Sebenarnya dulu Arda tidak menyadari ia punya bakat menyanyi. Hingga suatu hari ketika band-nya harus tampil dan si vokalis belum datang, Arda yang sebenarnya hanya gitaris diminta untuk juga bernyanyi. Disitu ia mendapat sambutan yang meriah dan akhirnya jadi merasa kecanduan. Akhirnya beragam prestasi berhasil dikantonginya. Salah satunya adalah The Best Vocalist kota Madiun.

Dela Setia Kusumawati (Della)

della

Della yang memiliki hobi berenang dan berlibur ini telah cukup banyak pengalamannya di dunia tarik suara, namun tetap mengaku merasa kaget ketika tahu dirinya masuk dalam 24 besar Indonesian Idol. Sebagai orang yang sering merasa tidak enak pada orang lain, kegembiraan yang dirasakan Della tidak 100% karena ia tetap sedih berpisah dengan yang kurang beruntung. Pendukung terbesarnya adalah keluarga. Menurut Della, kedua orang tuanya yang selalu terlihat mesra di depan anak-anaknya itu terus menerus panjatkan doa bagi dirinya agar terus sukses.

Lucunya, Della yang selain mahir menyanyi ternyata juga pandai menari ini punya kebiasaan memakai kaos kaki sebelum tidur. Jika gagal dipenuhi, ia tidak akan bisa tidur atau bangun dengan resiko encoknya kambuh. Sebelum mengikuti Audisi, Della yang seorang vokalis dan bandnya sering bernyanyi di sebuah kafe bertaraf internasional di Jakarta.

Della juga sangat mengidolakan Mike dan Sammy Kerispatih. Menurutnya, mereka berdua nyanyinya sangat keren. Dan harapannya di ajang ini Della bisa jadi seperti mereka dan membuktikan kepada orang-orang yang menganggap ia tak punya potensi bahwa ia bisa dan mampu.

Dyna Fransisca (Dyna)

dyna

Sebelum mengikuti Indonesian Idol, Dyna bekerja sebagai penyanyi sebuah kafe di Palembang. Namun setelah diumumkan lolos ke Jakarta, ia memutuskan untuk mengundurkan diri agar lebih bisa fokus dan berkonsentrasi. Gadis yang hobinya memancing, memasak, jalan-jalan dan nonton ini juga sangat suka bernyanyi. Selain itu ia juga bisa memainkan alat musik piano dan gitar yang dipelajari secara otodidak.

Dyna mengikuti Audisi dengan harapan jika dirinya dapat lanjut dan menjadi terkenal, ia bisa mengembalikan nama baik keluarganya yang dianggapnya tercoreng sejak ibunya dipenjara. Ia juga ingin membuat ibunya bangga, walaupun berada di balik terali besi.

Tidak sedikit prestasi yang sudah diukir Dyna. Di daerahnya dulu ia sering menjuarai lomba menyanyi dan sempat menjadi Bujang Gadis Lahat tahun 2005. Ia juga sering dipanggil untuk fashion show dan modelling di tempatnya tumbuh besar. Bagi Dyna, mengidolakan Siti Nurhaliza juga bukan berarti lalu meniru gaya bernyanyinya. Ia menganggap Siti sebagai sosok wanita yang luar biasa, karena selain suaranya enak didengar, kepribadiannya juga membuat kagum. Di waktu senggang, selain melakukan hobinya yang telah dipaparkan diatas, Dyna juga gemar melukis.

Irene

irene

Selain masih kuliah di Universitas Sahid jurusan Public Relation, Irene juga pernah bekerja sebagai staf PR di sebuah radio di Jakarta dan sering freelance sebagai SPG. Ketika tahu bahwa dirinya lolos ke babak Workshop, Irene sempat merasa minder karena ia merasa saingannya banyak yang lebih bagus. Walau begitu, ia tetap berusaha optimis dan menampilkan yang terbaik ke depannya dengan tetap berusaha menonjolkan ciri khasnya yaitu suara serak.

Awal mula Irene berkecimpung di dunia tarik suara adalah karena paksaan papa yang merasa melihat potensi dalam dirinya. Pada saat itu, Irene merasa suaranya tidak bagus dan enggan ikut perlombaan yang disuruh. Ketika akhirnya ia terpaksa ikut dan menjadi juara walaupun juara terakhir, Irene mulai menyadari kapasitasnya dalam bernyanyi dan mulai tekun berlatih.

Irene yang adalah anak terakhir dari 5 bersaudara ini sangat berambisi menemukan jati dirinya. Untuk patokan dalam bernyanyi, ia mengidolakan Christina Aguilera dan Terry.

Mario Oktavianus (Mario)

mario

Palembang, 26 Maret 1984

Jurusan yang dipilih oleh seorang Mario Oktavianus untuk mengejar karirnya cukup unik. Ia baru lulus kuliah di STIK Bina Husada jurusan Keperawatan. Alasan yang dikemukakan adalah karena jurusan ini biasanya mudah mencari pekerjaan lepas kuliah. Namun nasib berkata lain, setelah lulus ternyata Mario malah melenceng ke dunia tarik suara. Ia juga ternyata pandai menciptakan lagu pop. Beberapa gubahannya sempat dikirim ke radio dan masuk chart tangga lagu hingga 10 besar.

Semasa masih kuliah, Mario sering bangun pagi hari untuk bantu mama bikin kue. Pria dengan hobi menyanyi walau tak ada yang dengar ini ternyata sering merasa minder. Namun keminderan itu tak menjadi penghalang baginya untuk terus lanjut hingga babak Workshop. Ia kini berusaha menggali apa yang tidak dimiliki orang lain dalam dirinya. Kini ia hanya berlatih maksimal dan berharap bisa buat mama dan keempat kakaknya bangga. Yang disayangkan adalah sang papa yang juga sangat diidolakannya sudah tiada dan tak sempat melihat dirinya tampil di Indonesian Idol tahun ini.

Kebiasaan Mario adalah nyanyi di sembarang tempat. Hingga sebelum tidur pun ia masih tetap bernyanyi. Menurutnya, mama dan kakak-kakaknya sudah sangat hafal dengan kebiasaan ini. Dan pertanda bahwa dirinya sudah ‘tewas’ tertidur adalah bila lagu sudah berhenti terdengar.

Twenty Sriwulan (Twenty)

twenty

Bandung, 23 Januari 1990

Untungnya hobi tidur tidak ditekuni Twenty sebagai profesi. Beragam kegiatan yang cukup padat dilakukannya setiap hari di kota asalnya, Bandung. Twenty magang di sebuah kafe sebagai waitress. Ia juga sering bernyanyi di food court dan kafe-kafe. Ia memang paling takut menyia-nyiakan waktu hidupnya. Twenty memiliki ambisi yang cukup tinggi untuk bisa menjadi seorang diva Indonesia dan internasional. Baginya, demi cita-cita, apa pun bisa ditempuh. Termasuk keinginan untuk merubah hobinya tidur. Sebenarnya Twenty selalu ingin membahagiakan orang-orang di sekitarnya, namun hobi tidur itu sedikit menjadi penghalang karena Twenty sering galak jika tidurnya diganggu.

Twenty kokoh dalam berprinsip. Walau pun harus bernyanyi untuk mendukung ekonomi keluarga, ia tak ragu untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai penyanyi ketika pemilik kafe tempatnya bekerja memintanya untuk melakukan hal negatif yang disebutnya sebagai ‘menjual harga dirinya’. Twenty merasa dirinya punya kemampuan dan bisa mendapat pekerjaan lain tanpa harus menjual sesuatu yang bukan suara karena disini kapasitasnya adalah penyanyi.

Twenty yang juga gemar memencet komedo di hidung ini bergelut di bidang tarik suara sejak ia sekolah musik di Bandung tahun 1994. Ia didaftarkan di sekolah itu karena dilihat selalu ingin tampil dan maju ke pentas setiap ada kompetisi menyanyi. Padahal belum tahu apa-apa. Harapannya dari Workshop adalah agar ia bisa menambah ilmu supaya bisa menjadi Indonesian Idol tahun 2008.

Yukha

Profile 24 Besar Contestants Indonesian Idol 2008


yuka

Medan, 15 Oktober 1987

Sebagai seorang penyanyi, jam terbang Yuka dapat dibilang cukup tinggi. Ia seringkali diminta mengisi acara hingga ke luar negeri. Walau begitu, Yuka tetap senang menerima kritik dan masukan dari orang lain. Ia selalu berusaha berpikir positif dengan tetap menyadari bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna.

Kedua orang tua Yuka dan kakak-adiknya sangat mendukung keberadaannya di ajang Indonesian Idol. Ia juga sangat mengagumi sang mama yang sangat berarti keberadaannya dalam menyemangati dan mendukung hasrat untuk menjadi penyanyi terkenal. Mama juga selalu mengajarkan Yuka sejak kecil untuk tidak salah melangkah dan mendoakan yang terbaik baginya.

Yuka memiliki sifat yang sangat penyabar dan tidak suka marah. Ia juga memiliki kemampuan untuk menciptakan lagu dan pernah ditawari untuk kontrak rekaman namun ditolak oleh Yuka karena ia sangat ingin ikut Indonesian Idol. Uniknya, kedua orang tua Yuka tinggal terpisah, namun bukan karena bercerai. Hanya disebabkan oleh urusan yang masih tersisa dan mengharuskan sang mama tetap tinggal di Aceh dan papa di Bandung. Yuka merasa ia cukup berkualitas dan memiliki kemampuan untuk tetap bertahan di Idol. Ia juga memiliki karakter suara yang cukup mudah dikenali dan pribadi yang menyenangkan sebagai penunjang.

Thefanie Florina (Tifany)

tifany
Malang, 22 November 1988

Thefanie tergolong orang yang susah bangun pagi. Walau begitu, mahasiswi jurusan Ilmu Administrasi ini tidak patah semangat untuk berusaha tepat waktu. Ia juga sering terpaksa bangun pagi karena kegemarannya nonton bola walau tidak bisa bermain. Sering disalah sangka sebagai orang yang cuek dan sombong, Thefanie ingin orang-orang tahu bahwa ia sebenarnya sangat suka berteman dan bersosialisasi. Namun kebiasaannya yang tak bisa memulai percakapan dengan orang yang belum terlalu dikenal membuatnya sering dicap sombong.

Idola Thefanie adalah Agnes Monica karena suaranya ber-power dan pinter dance serta cantik juga. Oleh karena itu, berbekal dengan pikiran ‘paling gak suaraku gak fales’, Thefanie nekat ikut Audisi dan ternyata memang lolos hingga 24 besar. Ia percaya apapun hasilnya nanti, banyak pengalaman berharga yang telah didapatnya dan sudah punya banyak teman dari ajang ini adalah lebih dari cukup baginya.

Tergolong sebagai orang yang religius, Thefanie selalu berusaha menjauhi dunia malam dan alkohol. Bahkan ia bisa menyatakan dirinya sangat tidak suka dengan ‘dugem’, alkohol, rokok, dan narkoba. Harapannya dari Idol adalah supaya ia bisa mengukur kemampuannya dari sejauh apa ia dapat bertahan. Kritik dari juri dinilainya sebagai pembangun agar ia bisa lebih maju lagi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.